fbpx

Fakta dan Sejarah 10 Tradisi Lebaran di Indonesia

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on print

Ternyata, berbagai tradisi lebaran di Indonesia memiliki sejarah unik. Anda sudah tahu?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on print

Adanya tradisi lebaran di Indonesia menguatkan fakta bahwa negeri ini kaya dengan budaya. 

Anda pasti masih merekam memori tentang sebagian tradisi yang biasa Anda lakukan setiap tahun bukan?

Kalau Anda ingat-ingat, jumlah tradisi itu lumayan banyak. Menariknya, sebagiannya hanya bisa Anda temukan di Indonesia.

Hebatnya, jika Anda mampu menarik setiap esensi dari tradisi itu, Anda bisa menjadikannya sarana beribadah kepada Sang Maha Kuasa.

Mari kita bernostalgia sejenak dengan berbagai tradisi khas lebaran ini. Anda mungkin terkejut dengan berbagai fakta sejarah dari berbagai tradisi yang akan kami ulas.

1. Tarling (Takbir Keliling)

Malam hari sebelum Idul Fitri, biasanya warga ramai melakukan tradisi takbir keliling.

Menurut sejarawan betawi, Ridwan Saidi, kegiatan berkeliling kampung sambil meneriakkan takbir sudah ada sejak zaman Belanda. Sejak zaman tersebut, malam lebaran banyak obor menyala di rumah-rumah warga.

Meski memang takbir keliling itu tradisi, sebagian orang meniatkannya untuk menjalankan anjuran Nabi Muhammad Saw untuk bersuka cita pada hari raya, Idul Fitri adalah salah satunya.

قَالَ النَّبِيُّ ـ صلى الله عليه وسلم ـ ‏ “‏ يَا أَبَا بَكْرٍ إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَهَذَا عِيدُنَا ‏

Rasulullah Saw bersabda, “Ya Abu Bakar, tiap orang punya festival dan ini (Idul Fitri) adalah perayaan kita.” (HR Ibnu Majah)

Namun, pastikan agar tidak berlebihan. Jangan sampai pula takbir keliling membuat Anda bangun kesiangan dan ketinggalan berlebaran.

2. Mudik

Mudik

Melacak sejarahnya, budaya mudik lebaran di Indonesia, sudah ada sejak zaman kerajaan. Sebagian menyebut zaman Kerajaan Majapahit, sebagiannya zaman Kesultanan Mataram Islam.

Namun pada era modern, istilah mudik baru berkembang pada tahun 1970-an. Bersamaan dengan banyaknya orang dari desa yang merantau ke kota besar seperti Jakarta. Libur lebaran, dijadikan momentum para pendatang untuk pulang ke tempat asalnya.

Sebagai muslim, akan lebih bermakna jika Anda meniatkan mudik untuk bersilaturahmi. Ketika Anda menjalankannya tak sekedar untuk melestarikan tradisi, insya Allah akan ada ganjarannya.

Dalam hadis, Rasulullah Saw bersabda;

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Siapa saja yang senang diberi lebih banyak kemakmuran dan umur panjang, maka dia harus menjalin hubungan baik dengan orangtua dan saudaranya.” (HR Bukhari)

3. Ketupat

Berdasarkan penelitian H.J De Graaf, tradisi ketupat lebaran di Indonesia sudah ada sejak abad ke-15. Makanan ini jadi simbol perayaan hari raya umat Islam pada masa pemerintahan Kesultanan Demak.

Proses pengenalannya diinisiasi oleh pendakwah Islam terkenal kala itu,  Sunan Kalijaga. Tercatat bahwa dulu ada prosesi lebaran ketupat yang dilaksanakan setiap hari ke 8 bulan Syawal.

Namun belakangan, ketupat jadi tradisi umat Islam se-Indonesia. Kehadirannya jadi pelengkap makanan lezat lain saat lebaran tiba. 

Anda tentu tak perlu ragu memakannya. Sebab, bahan-bahan ketupat umumnya jelas kehalalannya. Hal yang harus Anda garis bawahi adalah makan secukupnya saja. Rasulullah Saw tak mengajarkan makan berlebihan.

4. THR

Bagi-bagi THR (Tunjangan Hari Raya), bermula dari Kebijakan Soekiman, tokoh Masyumi yang menjabat sebagai perdana menteri. 

Pada tahun 1951, ia memutuskan untuk memberikan THR bagi PNS, sebagai upaya peningkatan kesejahteraan PNS. Sejak itu, setiap jelang hari raya, PNS mendapatkannya.

Selanjutnya, negara mengatur THR dalam undang-undang secara khusus, sehingga semua pekerja mendapatkannya.

Dorongan berbagi rezeki, kemudian membuat penerima THR ini berbagi kepada orang lain ketika mendapatkannya. Terutama, anak-anak. Anda juga merasa senang, kan dengan tradisi ini?

5. Tabuh bedug

Malam lebaran biasanya sangat ramai. Wujud keramaian salah satunya hidup dari tabuhan bedug.

Bedug merupakan alat musik tradisional yang berasal dari China dan India. Berdasarkan sejarah, bedug mulai ditempatkan di masjid ketika Laksamana Cheng Ho memenuhi permintaan salah seorang raja di Semarang pada abad ke-15.

Khusus momen lebaran, tabuhan bedug dilakukan beriringan saat takbir keliling. Kumandangnya yang menggelegar pastinya sangat mudah Anda ingat. Seringkali, bedug juga diarak ke jalanan agar syiar semakin luas.

Dari sisi motif, tradisi ini dilakukan semata-mata sebagai ekspresi kebahagiaan. Anda pasti merasakan hal sama ketika mendengarkannya.

6. Beli baju baru 

Anda mungkin baru tahu, sesungguhnya kebiasaan membeli baju baru saat lebaran di Indonesia sudah ada sejak abad ke-16. Tepatnya, saat masa Kesultanan Banten dan Kesultanan Mataram Islam.

Menjelang hari raya, masyarakat menyiapkan baju baru. Baik dengan membeli maupun menjahit. 

Hingga kini, tradisi ini masih mengakar. Anda bisa saksikan, penjahit, toko baju, hingga marketplace, ramai dengan para pemburu baju lebaran. Perputaran uang meledak tinggi menjelang lebaran.

Ngomong-ngomong, lebaran tahun ini sudah beli baju baru belum?

7. Halal bi Halal

Sejak Hari Raya Idul Fitri hingga sepanjang bulan syawal, Anda mungkin akan sibuk dengan mengunjungi agenda halal bi halal. Baik dengan penyelenggara di level keluarga, komunitas sosial, rekan kerja, hingga organisasi.

Istilah halal bi halal sendiri bukan asli bahasa Arab melainkan kreasi seorang tokoh ulama pada masa awal kemerdekaan Indonesia, yakni KH Wahab Hasbullah.

Pada tahun 1948, Kiyai Wahab mengusulkan agenda silaturahmi nasional untuk menguatkan hubungan tokoh-tokoh politik di Indonesia. Presiden Soekarno saat itu menyetujuinya, lalu mengundang para elit nasional datang ke istana negara dalam suasana lebaran. Tahun-tahun setelahnya, kegiatan ini meluas jadi tradisi lebaran unik di Indonesia.

Maksud dari halal bi halal sendiri adalah saling menghalalkan kesalahan-kesalahan antar orang yang terlibat dalam agenda.

8. Ziarah Makam

Sepulang salat id, banyak keluarga muslim yang langsung bergegas menyiapkan diri ke makam anggota keluarganya yang sudah meninggal. 

Meski sebagian umat Islam ada yang menganggapnya bidah, namun ada juga yang meyakini sebagai amalan sunnah. Tentu, selama kedua pihak punya landasan dalil, cukuplah kita saling menghormati.

Satu hal yang pasti, kegiatan ini akan membuat pelakunya ingat dengan kematian. Berkontemplasi dengan kematian, secara psikologis dapat mendorong Anda menjalani kehidupan lebih sepenuh hati. Tak heran jika dalam hadis, Rasulullah Saw juga menganjurkan umatnya mengingat kematian.

9. Rekreasi

Pada musim lebaran, hampir dipastikan semua tempat wisata penuh dengan pengunjung. Berekreasi menjadi salah satu agenda utama keluarga dalam momen ini.

Mengapa bisa seperti itu?

Hal ini wajar, karena secara nasional, perusahaan dan instansi negara memberikan jatah libur bagi pegawainya. Maka, sebagian besar keluarga memanfaatkannya untuk family time di berbagai tempat menyenangkan.

Selain itu, rekreasi akan jadi refresh setelah sebulan lamanya menahan berbagai hal selama bulan Ramadhan. Namun, jika Anda mau rekreasi, pastikan untuk tetap pilih yang sejalan dengan syariat ya!

10. Berkirim bingkisan

Berkirim bingkisan

Meja di ruang tamu yang biasanya hanya memiliki satu atau dua toples makanan, mendadak penuh. Demikian juga dengan kulkas dan box penyimpanan, mendadak penuh karena kiriman bingkisan dari orang-orang terdekat.

Saling berkirim bingkisan adalah tradisi lama di Nusantara. Sejarawan Kuliner Universitas Padjadjaran, Ronny Fadli, menyebutnya sudah ada sejak awal abad ke-20.

Pada masa itu, sebagian orang dari kalangan Belanda dan pribumi kerap bertukar makanan pada hari raya masing-masing. Kue kering seperti nastar dan kastengel adalah makanan yang biasa orang Belanda berikan untuk pribumi saat hari raya lebaran tiba. Hingga kini, keduanya bahkan masih jadi makanan khas lebaran.

Kegiatan tersebut kemudian meluas dan tetap lestari hingga hari ini. Bahkan, isi bingkisannya menjadi semakin variatif. Kemasannya menjadi semakin cantik dengan hampers lebaran.

Agar bernilai ibadah, niatkan berkirim bingkisan semata-mata karena Allah. Dalam Islam, memberi hadiah kepada sesama muslim hakikatnya merupakan anjuran.

Rahasia tetap bugar saat lebaran tiba

Banyak ya tradisi pada masa lebaran?

Sebagai makhluk sosial, Anda tentu tak bisa mengabaikan berbagai tradisi. Sepanjang itu halal, ada baiknya Anda melibatkan diri. Pasti akan sangat bermanfaat jika Anda jalankan semua.

Namun apabila Anda berpikir semua kegiatan di atas melelahkan, Anda bisa siasati dengan mengkonsumsi asupan yang dapat membuat tubuh tetap bugar.

Supergoat bisa jadi pilihan terbaik bagi Anda. Brand susu kambing etawa bubuk ini sudah terbukti banyak khasiatnya. Salah satunya, menjaga imunitas dan kebugaran tubuh Anda. Jadi, tak perlu khawatir dengan aktivitas padat serta melelahkan.

Anda juga dapat menyimpan stok nya untuk dikonsumsi seluruh anggota keluarga. Semata-mata, agar kebersamaan dalam menjalani momen lebaran tak hilang. Sedih banget kan jika ada satu anggota keluarga drop saat berlebaran?

Maka dari itu, yuk hidupkan tradisi lebaran di Indonesia bersama Supergoat!

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on print

Artikel Terkait:

Berlanggaan Gratis!

Dapatkan pemberitahuan artikel menarik dari Supergoat, dengan berlangganan newsletter dibawah ini. Terimakasih :)

Tinggalkan komentar

Ingin Jadi Mitra Kami?

Isi form ini dan kami akan menghubungi Anda.

Pastikan data di atas sudah benar, setelah klik Join Mitra, Anda akan dibawa ke chat WA admin, silakan lanjutkan klik kirim dan jangan hapus pesan.

Form Pemesanan Supergoat

Penting!! Pastikan data di atas sudah benar, setelah klik Pesan Supergoat, Anda akan dibawa ke chat WA admin, silakan lanjutkan klik kirim dan jangan hapus pesan.