fbpx

Mitos/Fakta: 11 Makanan yang Tidak Boleh Dicampur dengan Susu

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on print

Benarkah makan pisang tidak boleh dicampur susu? Cek mitos dan fakta kesehatan tentang makanan yang tak boleh dicampur dengan susu berikut.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on print

Ada banyak mitos dalam hal makanan yang tidak boleh dicampur dengan susu beredar di masyarakat. Seperti kebanyakan mitos, sebagian benar, sebagian lagi tidak ada dasar ilmiahnya.

Mengingat susu merupakan minuman yang biasa orang konsumsi setiap hari, alangkah baiknya jika Anda mengetahui faktanya.

Berikut ini adalah mitos dan fakta tentang 11 jenis makanan atau minuman yang tidak boleh dikonsumsi bersama susu, beserta alasan dan solusinya.

Nanas = Fakta

nanas merusak rasa saat dicampur dengan susu

Banyak sekali liputan yang menganjurkan untuk menghindari mencampur nanas dengan susu. Mitosnya, kandungan bromelain pada nanas dapat merusak protein susu sehingga menjadi tidak baik bagi tubuh. 

Padahal, bromelain sendiri merupakan enzim protease yang dapat menguraikan protein menjadi asam amino sederhana. Dengan kata lain, bromelain justru membantu tubuh dalam mencerna dan menyerap asam amino dari protein.

Akan tetapi, peptida atau asam amino hasil penguraian kasein oleh bromelain memberikan rasa pahit di lidah. Karena itu, dapat merusak rasa susu.

Jadi, apakah nanas termasuk makanan yang tidak boleh dicampur dengan susu? Ya, dari segi rasa.

Inilah alasan utama kenapa Anda perlu menghindari mengonsumsi nanas bersamaan dengan susu. Tapi jika Anda tak merasa ini mengganggu, maka silakan saja.

Alpukat = Situasional

Alpukat merupakan buah yang kaya nutrisi dengan lebih dari 20 jenis vitamin dan mineral di dalamnya. Selain nutrisi, teksturnya yang creamy membuat banyak orang dari berbagai usia menyukainya.

Memang, sebagian ada yang melarang untuk mengombinasikan alpukat sekaligus dengan susu. Namun, faktanya, tak ada interaksi antarnutrisi yang membahayakan dalam kandungan alpukat dan susu.

Risiko satu-satunya mungkin hanya dari tingkat kalorinya yang cukup tinggi sehingga berisiko bagi yang bermasalah dengan obesitas. Meski banyak mengandung lemak, jenisnya tergolong lemak sehat seperti asam lemak omega 3.

Selain itu, risiko utama juga timbul akibat seringnya orang menambahkan gula atau susu kental manis, yang membuat kalorinya naik berlipat-lipat.

Pepaya = Mitos

mitos pepaya dicampur dengan susu

Seperti nanas, pepaya mengandung digestive enzym (enzim pencerna) yang mirip dengan bromelain, yaitu papain (chymopapain).

Hampir setiap orang yang suka memasak, tahu bahwa membungkus daging dengan daun pepaya dapat membuat daging lebih empuk. Hal ini, tak lain dan tak bukan, adalah berkat enzim papain tersebut.

Seperti halnya bromelain, papain justru membantu tubuh dalam mengurai protein, yang mana bagus untuk metabolisme. Namun, letak mitosnya tidak hanya di sana.

Enzim papain banyak terdapat pada pepaya mentah atau setengah matang, tapi tidak pada yang sudah matang sempurna. Karena itu, mencampur susu dengan pepaya yang matang tidak akan merusak rasanya.

Jadi, anjuran tidak mencampur susu dengan pepaya hanya mitos saja. Pepaya bukanlah termasuk makanan yang tidak boleh dicampur dengan susu.

Teh = Fakta

Larangan mengonsumsi teh bareng dengan susu timbul karena adanya kandungan tanin di dalam teh. Tanin atau asam tanat (tannic acid) merupakan sejenis polifenol yang memiliki efek antioksidan dan anti inflamasi. Meski begitu, konsentrasi yang terlalu tinggi memperlihatkan cukup banyak efek samping, termasuk sakit perut, mual, dan muntah.

Selain itu, asam tanat juga memiliki efek menghalangi penyerapan berbagai nutrisi. Ini pula yang menjadi alasan kenapa banyak orang merekomendasikan minum teh sebagai cara diet alami.

Lalu, bagaimana jika minum teh bersama susu? Kombinasi kedua minuman ini tidak membahayakan. Dengan kata lain, hal ini tidak menimbulkan sakit atau kondisi yang membahayakan.

Efeknya yang utama adalah penyerapan nutrisi pada susu jadi berkurang, terutama mineral. Jadi, jika Anda minum susu karena ingin menyerap nutrisinya, maka hindari konsumsi bersamaan dengan teh.

Tapi, lain halnya jika Anda ingin minum teh tarik (sejenis minuman campuran teh dan susu) untuk kenikmatan. Maka, tak ada masalah kesehatan yang perlu Anda waspadai.

Selain itu, ada kemungkinan kasein susu mengikat antioksidan pada teh. Namun, penelitian lain menyatakan tidak berpengaruh. Jadi, masih butuh penelitian lebih lanjut.

Pisang = Mitos

pisang tidak boleh dicampur susu hanya mitos

Anjuran tidak mengonsumsi pisang bersamaan dengan susu bersumber dari kitab Ayurveda. Menurut kitab tersebut, melakukan hal ini dapat mengecilkan agni, mengubah kondisi flora normal, hingga menyebabkan toksin dan alergi.

Faktanya, tak ada penelitian yang mendukung hal tersebut.

Bahkan, mengonsumsi pisang bersamaan dengan susu bisa jadi sangat bagus karena semakin memperkaya nutrisi. Khususnya, jika Anda sedang dalam proses pemulihan pasca sakit atau setelah latihan dan aktivitas berat.

Meski begitu, Anda perlu mewaspadai gabungan kalori keduanya yang mungkin cukup tinggi. Terutama jika memang Anda bermasalah dengan berat badan. Jika tidak, maka tidak ada alasan untuk memisahkan kedua pasangan tersebut.

Jeruk = Mitos

Banyak yang melarang untuk mengonsumsi jeruk bersamaan dengan minum susu. Alasannya, asam sitrat pada jeruk dapat menggumpalkan protein susu di dalam lambung yang dapat menyebabkan gangguan pencernaan.

Faktanya, asam sitrat pada jeruk hanyalah asam lemah dengan pH antara 3–5. Sedangkan asam lambung jauh lebih asam dengan memiliki pH antara 1–2. Artinya, asam lambung justru lebih menggumpalkan protein susu.

Lagipula, protein susu yang menggumpal merupakan proses awal denaturasi yang menandakan rusaknya ikatan protein tersebut. 

Seperti halnya telur yang dimasak akan lebih mudah dicerna daripada telur mentah. Hal ini akan membantu pencernaan protein oleh tubuh.

Kecuali, jika sebelumnya Anda memang memiliki maag kronis atau risiko asam lambung naik. Maka, kombinasi ini bisa saja meningkatkan risiko perburukan kedua penyakit tersebut.

Nangka = Mitos

Nangka aman dikonsumsi bersama susu

Larangan mengonsumsi susu bersamaan dengan nangka juga bersumber dari kitab Ayurveda. Disebutkan bahwa kombinasi ini dapat mengganggu pencernaan dan bahkan menyebabkan penyakit kulit.

Beberapa liputan di internet bahkan mencoba mendukung hal ini dengan menyebut kandungan bromelain di dalamnya.

Faktanya, nangka justru mengandung vitamin C yang bagus bagi kulit. Kandungan karotenoid, flavonoid, dan seratnya juga bagus bagi penderita diabetes.

Selain itu, tak ada penelitian yang menyebutkan nangka mengandung bromelain. Enzim pencerna ini adanya di nanas, dan juga tidak menghambat pencernaan.

Dengan kata lain, anjuran untuk menghindari mengonsumsi susu dan nangka bersamaan tidak memiliki dasar ilmiah yang mendukung.

Cokelat = Situasional

Banyak sekali beredar info bahwa Anda tidak boleh minum susu sekaligus bersama dengan makan cokelat. Alasannya, karena cokelat banyak mengandung oksalat yang dapat mengurangi penyerapan kalsium.

Lalu, kenapa ada produk susu cokelat?

Faktanya, asam oksalat dapat mengikat kalsium dan membentuk kalsium oksalat di saluran cerna. Tubuh tidak dapat menyerap ini sehingga akan dikeluarkan dari saluran cerna nantinya. Jadi, info ini benar adanya.

Akan tetapi, itu berlaku jika tujuannya adalah mendapatkan kalsium. Beda lagi jika tujuannya adalah mengeluarkan oksalat dari tubuh.

Oksalat sendiri memiliki sifat toksik bagi tubuh. Konsentrasi yang terlalu tinggi dapat menyebabkan nyeri, rasa capek, sulit konsentrasi, hingga batu ginjal. Karena itu lebih baik untuk mencegahnya masuk ke dalam tubuh.

Salah satu upayanya adalah dengan mengonsumsi susu yang mengandung banyak kalsium. Dengan demikian, akan mencegah tubuh menyerap terlalu banyak oksalat.

Jadi, jika Anda mengonsumsi beberapa makanan yang tinggi oksalat, jangan lupa untuk minum susu yang kaya kalsium.

Jenis makanan/minumanKandungan oksalat
Bayam755 mg per mangkok
Cokelat400 mg per 100 gr
Tahu235 mg per 300 gr
Susu kedelai336 mg per gelas
Almond122 mg per 100 gr
Bit (sejenis umbi)152 mg per mangkok
Kentang97 mg per 300 gr

Obat / Antibiotik = Fakta

obat antibiotik

Sudah menjadi rahasia umum bahwa minum obat sebaiknya tidak bersamaan dengan minum susu. Alasannya karena susu dapat menghalangi penyerapan obat.

Faktanya benar. Makanan/minuman yang kaya dengan mineral divalen (menghasilkan ion 2+) seperti kalsium (CA2+) dan magnesium (Mg2+) mempengaruhi penyerapan antibiotik.

Ini karena ion tersebut mengikat molekul antibiotik pada saluran cerna yang membuat tubuh tidak dapat menyerapnya. Karena itu, jika Anda mengonsumsi obat antibiotik, hindari meminum susu, yoghurt, atau makanan kaya kalsium lainnya.

Jadi, mutlak bahwa antibiotik merupakan salah satu minuman atau makanan yang tidak boleh dicampur dengan susu.

Ikan = Situasional

Ayurveda sekali lagi menjadi rujukan utama kenapa tidak boleh mengonsumsi susu dengan ikan. Disebutkan bahwa hal ini dapat memicu ketidakseimbangan energi dan mengakibatkan timbulnya penyakit kulit.

Faktanya, tidak ada sama sekali penelitian ilmiah yang mendukung hal ini. Baik ikan maupun susu sama-sama mengandung protein hewani yang bermanfaat.

Tentu saja, ada risiko jika Anda mengonsumsi keduanya dalam jumlah besar. Ini karena keduanya merupakan protein hewani, sehingga butuh waktu lama dan sekresi asam lambung yang lebih besar untuk mencernanya.

Selain itu, jika Anda mengalami diare, sakit perut, atau konstipasi saat minum susu setelah makan ikan, maka ada dua kemungkinan. Kalau bukan alergi susu sapi, ya food poisoning (keracunan) akibat kualitas makanan yang kurang bagus.

Daging = Situasional

Kondisinya sama dengan ketika mengonsumsi ikan, butuh waktu lama dan upaya besar untuk mencernanya.

Faktanya, ikan dan daging butuh waktu hingga 1–2 hari di dalam saluran cerna hingga benar-benar terserap. Di lambung sendiri, protein daging membutuhkan waktu 2–5 jam hingga terurai.

Susu sapi dapat memperburuk kondisi ini dengan membentuk curd (semacam dadih) di permukaan lambung. Akibatnya, penguraian dan penyerapannya bisa membutuhkan waktu lebih lama. Jadi, jika Anda tak memiliki risiko maag kronis atau asam lambung naik, tidak masalah mengonsumsi susu dan daging sekaligus. Tentu dengan mempertimbangkan jumlah yang Anda konsumsi.

Demikian mitos dan fakta terkait 11 makanan/minuman yang tidak boleh dicampur dengan susu. Meski beberapa hubungan berlaku absolut (seperti susu dengan antibiotik), tapi beberapa kondisi dapat berubah dengan beralih ke susu kambing.

Contoh, dalam hal interaksi susu dengan ikan dan daging, susu kambing dapat meningkatkan pencernaan dan pengosongan lambung. Ini dapat menurunkan risiko maag kronis atau asam lambung naik.

Jadi, mau minum susu? Ya, Supergoat aja.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on print

Artikel Terkait:

Berlanggaan Gratis!

Dapatkan pemberitahuan artikel menarik dari Supergoat, dengan berlangganan newsletter dibawah ini. Terimakasih :)

2 pemikiran pada “Mitos/Fakta: 11 Makanan yang Tidak Boleh Dicampur dengan Susu”

Tinggalkan komentar

Ingin Jadi Mitra Kami?

Isi form ini dan kami akan menghubungi Anda.

Pastikan data di atas sudah benar, setelah klik Join Mitra, Anda akan dibawa ke chat WA admin, silakan lanjutkan klik kirim dan jangan hapus pesan.

Form Pemesanan Supergoat

Penting!! Pastikan data di atas sudah benar, setelah klik Pesan Supergoat, Anda akan dibawa ke chat WA admin, silakan lanjutkan klik kirim dan jangan hapus pesan.