fbpx

Kambing Etawa (Peranakan): Asal, Jenis, dan Keunggulan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on print

Kambing Peranakan Etawa menjadi primadona kambing perah di Indonesia. Produksi susunya yang mencapai 3-5 liter per hari memberikan potensi keuntungan yang luar biasa.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on print

Kambing Etawa adalah nama lain dari kambing Jamnapari, rumpun kambing perah yang penduduk Etawa, Uttar Pradesh, India, banyak pelihara.

Kambing jenis ini sangat populer. Selain bisa diperah susunya, dagingnya pun juga bisa dimanfaatkan.

Kambing ini menjadi nenek moyang dari berbagai kambing perah terkenal di dunia, seperti:

  1. Anglo-nubian,
  2. America-nubian, dan
  3. Peranakan Etawa (PE).

Jadi, kambing PE (Peranakan Etawa) adalah hasil penyilangan dari Jamnapari dengan kambing lokal Indonesia (kacang).

Dari hasil penyilangan ini, para peternak bisa mendapatkan kambing perah yang:

  1. Tahan dengan iklim dan cuaca di Indonesia, dan
  2. Output susunya tinggi.

Ciri Kambing Etawa

Kambing Etawa jantan dewasa dapat mencapai berat sekitar 100 kilogram. 

Sedangkan yang betina, dapat memiliki berat antara 80-90 kilogram saat dewasa (di atas 2 tahun).

Ruminansia bertelinga panjang ini memiliki gelambir panjang di bawah leher dan bermuka cembung.

Selain itu, tanduknya agak kecil dan sedikit melengkung ke belakang. 

Sedangkan warna rambutnya campuran antara hitam atau coklat di bagian kepala dan putih di bagian tubuh.

Ciri Kambing Etawa

4 Jenis Kambing PE Asli Indonesia

Peranakan Etawa di Indonesia dapat dibedakan sesuai dengan pasangan silangnya.  Yaitu, peranakan Etawa turunan:

  1. Kaligesing,
  2. Senduro,
  3. Jawarandu, dan
  4. Sapera

Penamaan ini berdasarkan wilayah dari kambing kacang (kambing lokal) yang menjadi pasangan silangnya.

PE Kaligesing 

PE Kaligesing merupakan persilangan antara kambing lokal Kaligesing, Purworejo, Jawa Tengah, dengan Jamnapari yang masuk sekitar 1930-an.

Cirinya mirip Jamnapari asli, yaitu: muka cembung, telinga panjang dan turun, tanduk pendek, serta belang hitam pada wajah.

PE Kaligesing

PE Kaligesing termasuk kambing perah ternak idaman karena tidak pilih-pilih makanan.

Selain itu, produksi susu kambing Etawa-nya pun mencapai 0,5 – 3 liter per hari.

PE Senduro

PE Senduro merupakan persilangan dengan kambing lokal Menggolo dari daerah Senduro, Lumajang, di kaki Gunung Semeru, Jawa Timur.

Peranakan ini adalah hasil persilangan dari kambing Jamnapari yang masuk Indonesia sekitar tahun 1940-an.

Ciri fisiknya mirip dengan PE Kaligesing, begitu juga kemampuan produksi susunya.

Tapi, bedanya hanya pada rambut yang dominan sekali warna putih. Maka dari itu, sering juga para peternak menyebutnya sebagai Senduro Putih.

PE Senduro

PE Jawarandu

PE Jawarandu merupakan persilangan antara Jamnapari dengan kambing kacang koplo (gumbolo/bligon).

Secara fisik tak jauh berbeda dari PE Senduro dan Kaligesing. Kecuali pada rambutnya yang dominan coklat dan putih.

PE Jawarandu

Selain itu, produksi susunya juga termasuk sedang dengan kemampuan per hari sekitar 1,5 liter.

Sapera

Kambing perah Sapera merupakan trah unggulan hasil persilangan kambing PE asli Indonesia dengan ratu kambing perah, Saanen, asal Swiss.

Ciri fisiknya mirip PE, tapi produksi susunya jauh lebih besar, mencapai 4-5 liter per hari.

Dengan kata lain, Sapera merupakan turunan kambing Saanen yang berhasil adaptasi dengan cuaca Indonesia.

Kesimpulan singkat dari 4 jenis peranakan Etawa di Indonesia dapat Anda lihat di tabel berikut.

6 Keunggulan Kambing Peranakan Etawa

Memelihara kambing peranakan Etawa sangat menguntungkan peternaknya.

Hal ini karena kambing PE punya beberapa keunggulan daripada jenis kambing kacang maupun kambing perah lainnya.

Kambing Dwi Guna

Kambing peranakan Etawa tidak hanya bermanfaat sebagai kambing perah. Namun, kambing jantan dewasa juga dapat menjadi kambing potong dengan rasa dan tekstur yang lezat.

Hal ini juga yang menjadi alasan kambing PE menjadi populer di kalangan para peternak.

Tahan dengan Iklim dan Cuaca Indonesia

Tidak seperti kambing Saanen asal Swiss yang tidak tahan dengan cuaca Indonesia.

Karena itu, meski produksi aslinya tinggi, tapi tak lagi maksimal begitu berada di Indonesia.

Sebaliknya, kambing PE telah beradaptasi dengan cuaca dan iklim Indonesia.

Makanya, meski peternak membiarkannya di bawah terik matahari langsung, hasil produksinya tetap tinggi.

Tidak Rewel Soal Makanan

Kambing memang terkenal soal pilih-pilih makanan daripada domba.

Tapi, dengan manajemen pakan yang tepat, kambing PE dapat mengonsumsi hampir semua hijauan yang biasa ruminansia konsumsi.

Meski begitu, kualitas dan kuantitas pakan jelas memiliki pengaruh pada produksi susunya.

Karena itu, memberikan pakan yang bergizi cukup akan memberikan keuntungan bagi peternak.

Cepat Menghasilkan

Kambing PE mampu mencapai pubertas dalam usia 7-12 bulan.

Masa kawin paling baik bagi kambing PE betina adalah saat usia 12-15 bulan ketika berat badan mencapai sekitar 30 kg.

Kemudian, masa kehamilan dapat berlangsung sekitar 5-6 bulan. Dan, 2 bulan kemudian, kambing sudah dapat dipasangkan lagi.

Dengan kata lain, dalam waktu 2 tahun, kambing PE bisa mengalami 3 kali masa kawin dan laktasi. 

Sehingga induk kambing peranakan Etawa dapat terus menghasilkan susu tanpa henti.

Waktu Produktif Cukup Panjang

Kambing PE betina dapat mencapai usia 10-11 tahun maksimal. Sedangkan yang jantan dapat mencapai usia 8-10 tahun maksimal.

Artinya, dengan masa produktif mulai 12 bulan (1 tahun), maka ada 7 – 9 tahun masa produktif.

Sehingga, peternak akan memiliki banyak kesempatan untuk mendapatkan keuntungan dari memelihara kambing PE ini.

Kemampuan Produksi Tinggi

Kambing PE memiliki tingkat produksi susu yang tinggi antara 0,5 – 5 liter per hari.

Selain itu, produksi keturunannya pun bisa mencapai 2-3 ekor sekali melahirkan.

Dengan kemampuan hamil setiap 7-8 bulan, maka total potensi anakan selama masa produktif mencapai 36 ekor per indukan.

Yang Banyak Orang Tanyakan tentang Kambing Etawa

Apa itu kambing Etawa?

Kambing Etawa merupakan nama lain dari jenis Jamnapari yang banyak dipelihara di kawasan Etawa, Uttar Pradesh, India.

Apa ciri-ciri kambing Etawa yang bagus?

Kambing yang bagus untuk dikembangkan adalah yang bebas dari cacat serta penyakit dan berusia antara 1-2 tahun.

Selain itu, Anda mungkin perlu mempertimbangkan silsilah yang jelas dari kambing tersebut.

Apa pakan kambing Etawa yang bagus?

Kambing PE memerlukan 2 jenis pakan agar menghasilkan secara optimal, yaitu: hijauan dan konsentrat.

Anda perlu memotong hijauan kecil-kecil dan menyajikannya secara bertahap agar tidak ada yang terbuang.

Sedangkan konsentrat bisa dari biji-bijian, ampas tahu, dan semacamnya.

Penutup

Kambing Peranakan Etawa merupakan ternak unggulan Indonesia yang memberikan banyak keuntungan bagi peternak.

Dengan 6 keunggulan yang telah disebutkan, Anda bisa mempertimbangkannya sebagai bisnis atau usaha yang menguntungkan.

Apakah Anda tertarik dengan kesempatan tersebut? Kira-kira menurut Anda apa yang membuat kambing Etawa dan peranakannya menarik? Silakan bagikan pendapat Anda di kolom komentar. Jika merasa info ini bermanfaat, jangan ragu untuk share artikel ini.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on print

Artikel Terkait:

Berlanggaan Gratis!

Dapatkan pemberitahuan artikel menarik dari Supergoat, dengan berlangganan newsletter dibawah ini. Terimakasih :)

Tinggalkan komentar

Ingin Jadi Mitra Kami?

Isi form ini dan kami akan menghubungi Anda.

Pastikan data di atas sudah benar, setelah klik Join Mitra, Anda akan dibawa ke chat WA admin, silakan lanjutkan klik kirim dan jangan hapus pesan.

Form Pemesanan Supergoat

Penting!! Pastikan data di atas sudah benar, setelah klik Pesan Supergoat, Anda akan dibawa ke chat WA admin, silakan lanjutkan klik kirim dan jangan hapus pesan.